Umroh

Tatacaraumroh.com – Umroh adalah salah satu kegiatan ibadah dalam Islam. Secara teknis nyaris serupa dengan ibadah haji. Ibadah umroh dikerjakan di tanah suci, khususnya di Masjidil Haram dengan melakukan serangkain ibadah yaitu tawaf di Ka’bah, sa’i antara Shofa ke Marwah dan tahalul setelah memakai pakain Ihram di Miqat.

Umroh kerap kali disebut dengan haji kecil, karena tata cara umroh ada kesamaan dengan tata cara haji. Perbedaan umroh dengan haji terdapat pada waktu dan tempat pelaksanaannya.

Umroh dapat dilaksanakan kapan pun dan kegiatan utamanya hanya berpusat di Masjidil Haram saja, sedangkan haji hanya dapat dilaksanakan pada bulan haji saja dan tempat kegiatan utamanya yaitu di Masjidil Haram, Arafah, Muzdalifah dan Mina.

Tata Cara Umroh (Manasik Umroh)

Tata cara umroh wajib dipelajari oleh setiap orang yang akan pergi umroh. Tujuannya supaya mengetahui apa yang diperbolehkan dan apa yang tidak diperbolehkan dalam kegiatan umroh.

Jangan sampai karena ketidak pahaman tentang ilmu tata cara umroh ini membuat nilai ibadah umroh yang akan dikerjakan menjadi rusak dan sia-sia.

Umar bin ‘Abdul ‘Aziz juga pernah berkata,


مَنْ عَبَدَ اللَّهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ

Artinya:

“Siapa yang beribadah kepada Allah tanpa didasari ilmu, maka kerusakan yang ia perbuat lebih banyak daripada maslahat yang diperoleh.” (Majmu’ Al Fatawa karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 2: 282)

Rangkaian Tata Cara Umroh Praktis [Panduan]

Tata Cara Umroh
Gambar tata cara umroh via lapakumroh.com

Pertama : Ihram di Miqat
Rangkaian tata cara umroh dimulai dari ihram di miqat. Ihram di miqat maksudnya berniat untuk memulai kegiatan haji dan umroh pada batas-batas tempat dan waktu yang telah ditentukan.

Berikut beberapa batas tempat miqat haji dan umroh yang ditentukan dari berbagai arah :

  1. Bir-r Ali – Batas miqat Jamaah yang datang dari arah Madinah
  2. Juhfah – Batas miqat jamaah yang datang dari arah Syuriah
  3. Qarnul Manadzil – Batas miqat jamaah yang datang dari arah Najd
  4. Yalamlam – Batas miqat jamaah yang datang dari arah Irak

Setibanya di salah satu batas tempat miqat diatas, calon tamu-tamu Allah diwajibkan berniat untuk umroh dengan syarat sudah mengenakan pakaian ihram.

Lafaz niat umroh,

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ عُمْرَةً

Labbaik Allahumma ‘umratan
Artinya: “Aku sambut panggilan-Mu ya Allah untuk berumrah.”

Atau:

نَوَيْتُ الْعُمْرَةَ وَأَحْرَمْتُ بِهَا للهِ تَعَالىَ

Nawaitul ‘Umrata wa ahramtu bihaa lillahi ta’alaa.
Artinya:
“Aku niat umrah dengan berihram karena Allah ta’ala.”

Setelah ihram atau berniat umroh di miqat, sepanjang jalan menuju Masjidil Haram disunnahkan memperbanyak mengucapkan kalimat talbiyah, yaitu:

“Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik laa syariika laka labbaik. Innalhamda wan ni’mata, laka wal mulk, laa syariika lak”.

Bagi laki-laki dianjurkan untuk mengeraskan suaranya, dan sedangkan untuk perempuan cukup dengan bersuara lirih.

Hal-hal yang disunnahkan sebelum ihram di miqat
Sebelum memulai ihram di miqat terdapat beberapa perkara yang di sunnahkan, yaitu:

  1. Memotong kuku, mencukur bulu ketek, kumis, dan bulu kemaluan.
  2. Mandi, baik bagi laki-laki dan perempuan, baik dalam keadaan suci atau haidh.
  3. Memakai wewangian pada badan, hati-hati memakainya karena tidak pada pakaian.
  4. Mengerjakan sholat sunnah ihram pada waktu-waktu yang tidak diharamkan.

Hal-hal yang dilarang setelah ihram di miqat
Setelah niat umroh dilakukan di miqat, ada sejumlah larangan ihram yang harus dihindari, yaitu:

  1. Memakai pakaian bejahit (laki-laki)
  2. Memakai tutup kepala sperti peci, sorban dll (laki-laki)
  3. Menutup wajah dan memakai kaos tangan (perempuan)
  4. Memakai wewangian pada badan dan pakaian
  5. mencukur rambut dan bulu pada badan
  6. Memotong kuku atau mencabutnya
  7. Menikah, menikahkan dan melamar
  8. Memburu binatang buruan darat
  9. Melakukan hubungan suami istri
  10. Memakai minyak rambut

Jika larangan ihram diatas ada yang dilanggar maka wajib membayar Dam atau Denda sesuai ketentuan yang berlaku.

Kedua : Tawaf
Thawaf merupakan salah satu rukun umrah. Tawaf ini menempati posisi kedua dalam urutan rangakaian tata cara umroh. Kegiatan tawaf yaitu mengitari Ka’bah sebanyak 7 kali.

Syarat-syarat Tawaf:

  1. Suci dari hadats besar dan kecil.
  2. Suci dari najis pada bandan, pakaian dan tempat.
  3. Berpakaian yang menutup aurat sesuai syariat Islam.
  4. Menjadikan Ka’bah selalu berada disebelah kiri.
  5. Mengelilingi Ka’bah harus 7 putaran.
  6. Dimulai dari garis yang sejajar dengan Hajar Aswad.

Hal-hal yang disunnahkan ketika tawaf

  1. Berjalan cepat diputaran pertama sampai putaran ketiga (laki-laki)
  2. Ketika melintasi Hajar Aswad mengangkat tangan sambil bertakbir
  3. Mengusap dan mencium Hajar Aswad jika memungkinkan
  4. Mengusap Rukun Yamani jika memungkinkan
  5. Berdoa dan berzikir secara sirr agar tidak menggagu orang lain
  6. Memperbanyak membaca ayat-ayat suci Al Quran
  7. Menjaga pandangan dari berbagai hal yang menibulkan kelalaian
  8. Diantara Rukun Yamani dan Hajar Aswad membaca doa sapu jagat

    Dari ‘Abdullah bin As Saaib, ia berkata

    سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ مَا بَيْنَ الرُّكْنَيْنِ (رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

    Yang artinya:

    ”Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata di antara dua rukun: Robbanaa aatina fid dunya hasanah wa fil aakhirooti hasanah, wa qinaa ‘adzaban naar (Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami kebaikan di dunia dan di akhirat, serta selamatkanlah kami dari adzab neraka).” (HR. Abu Daud no. 1892. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Setelah selesai melakukan kegiatan tawaf para jamaah langsung mengerjakan sholat sunnah dua raka’at di belakang maqam Nabi Ibrahim as. Untuk laki-laki yang belum menutupi kedua bahunya setelah tawaf hendaknya ditutupi terlebih dahulu untuk menjaga kesempurnaan ibadah sholat yang akan dikerjakan.

Setelah sholat di maqam nabi Ibrahim, disunnahkan minum air zam-zam dan membaca doa

اللهم إني أسألك علماً نافعاً، ورزقاً واسعاً، وشفاءً من كل داء

Yang artinya:

“Ya Allah aku memohon pada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizqi yang luas, dan kesembuhan dari segala macam penyakit“.

Setelah selesai minum air zam-zam jamaah langsung menuju ke bukit Sofa untuk melakukan rangkaian tata cara umroh yang berikutnya, yaitu Sa’i

Ketiga : Sa’i
Sa’i merupakan salah satu dari rukun umroh. Kegiatan sa’i yaitu berjalan bolak balik antara bukit shofa dan bukit marwah hingga 7 kali.

Syarat-syarat Sa’i

  1. Dimulai dari Shofa dan berakhir di Marwah
  2. Dilakukan setelah mengerjakan Tawaf
  3. Dilakukan di tempat Sa’i yaitu antara Shofa dan Marwah
  4. Dilakukan hingga 7 kali bolak balik tidak boleh kurang

Sunnah-sunnah Sa’i

  1. Berlari-lari kecil saat melintasi dua pilar warna hijau (laki-laki).
  2. Dilakukan dalam keadaan suci atau sedang dalam keadaan berwudhu.
  3. Dilakukan berjalan kaki hingga menyelesaikan kegiatannya.
  4. Dilakukan secara berturut-turut hingga 7 kali bolak balik (tidak ada jedah).
  5. Menaiki bukit Shofa dan Marwah hingga sampai ke batu-batu bukit.
  6. Memperbanyak membca doa, zikir dan ayat-ayat suci Al Qur’an
Keempat : Tahalul
Tahalul (mencukur sebagian rambut kepala) menjadi akhir dari rangkaian tata cara umroh. Bagi laki-laki lebih Afdol mencukur semua atau mengundul rambutnya. Sedangkan untuk perempuan cukup memotong rambutnya seukuran buku jari saja.

Kelima : Tertib
Tertib maksudnya mengerjakan serangkaian tata cara umroh diatas harus dilakukan secara berurutan, yaitu dimulai dari ihram di miqat, tawaf, sa’i, dan tahalul.

Alhamdulillah umroh selesai…

Itulah rangkaian tata cara umroh yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat khususnya bagi yang tengah mempersiapkan diri untuk melaksankan ibadah umrah.